Negosiator dari Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah menjajaki opsi kesepakatan bertahap guna menghentikan konflik militer yang memanas di kawasan Timur Tengah, menurut laporan Reuters pada Kamis (24/9). Langkah awal dari potensi kesepakatan ini mencakup komitmen Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi serta pembukaan kembali akses terhadap aset-aset Iran yang dibekukan oleh Washington.
​Proses negosiasi yang diperantarai pihak ketiga ini berlangsung sangat sensitif karena persoalan urutan pelaksanaan (sequencing). Kedua belah pihak sama-sama enggan melepaskan posisi tawar utama mereka terlebih dahulu tanpa jaminan riil dari pihak lawan, sebuah kebuntuan diplomatik yang sebelumnya sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak di atas $105 per barel.
​Di tengah dinamika perundingan tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan sindiran tajam melalui akun X resminya menanggapi melesatnya yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga menyentuh 5,1%. "Selamat atas 5,1% 10Y Amerika. Masyaallah. Rayakanlah: ini adalah batas bawah untuk dua tahun ke depan. Kalian ingin menyeret Iran kembali ke tahun 1970-an? Tidak ada yang memberi tahu kalian bahwa Iran bukan untuk amatir yang arogan? Kami akan mengembalikan kalian ke suku bunga tahun 1970-an, ditambah harga gas tinggi, kelangkaan diesel, dan celana cutbrai. Nikmati nostalgianya!" tulis Ghalibaf.
​Respons pasar global terhadap dinamika ini berlangsung sangat cepat. Segera setelah laporan Reuters mengenai penjajakan kesepakatan tersebut beredar, harga minyak mentah Brent langsung melandai turun ke kisaran $97 per barel, sementara minyak WTI terkoreksi dari $95 ke level $92 per barel. Pada saat yang sama, pasar keuangan mencatatkan reli instan dengan penambahan kapitalisasi mencapai $700 miliar pada sektor saham AS, komoditas logam, dan kripto hanya dalam kurun waktu 15 menit.



