Chainalysis merilis laporan tahunan 2026 Global Crypto Adoption Index pada akhir September untuk melihat bagaimana masyarakat dunia menggunakan mata uang kripto dari Juli 2025 hingga Juni 2026. Meskipun nilai pasar kripto secara keseluruhan sempat anjlok hingga 50%, jumlah transaksi atau aktivitas nyata di jaringan blockchain global ternyata hanya turun tipis 1,6% dari $9,5 triliun menjadi $9,4 triliun. Ketahanan ini terjadi karena semakin banyak orang yang menggunakan kripto untuk kebutuhan sehari-hari, bukan sekadar untuk berspekulasi atau mencari keuntungan cepat.
​Brasil resmi menduduki peringkat pertama di dunia dalam hal adopsi kripto oleh masyarakat luas (grassroots crypto adoption), naik jauh dari posisi kelima pada tahun sebelumnya. Dengan total nilai ekonomi kripto mencapai $252,5 miliar, negara terbesar di Amerika Latin ini unggul di berbagai kategori, mulai dari transaksi antarnegara hingga simpanan aset digital. Sementara itu, posisi puncak yang tahun lalu dipegang oleh India kini digantikan oleh Amerika Serikat di peringkat kedua dan Nigeria di peringkat ketiga.
​Di sisi lain, Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam laporan terbaru ini, turun dari posisi ketujuh pada tahun sebelumnya. Dalam lingkup Asia Tenggara, posisi Indonesia berada di bawah Thailand yang sukses masuk jajaran 10 besar di peringkat ke-8, namun masih lebih unggul dibandingkan Vietnam di peringkat 18 dan Filipina di peringkat 19.
​Laporan tersebut juga mencatat lonjakan besar pada penggunaan stablecoin dolar AS untuk pengiriman uang lintas negara yang naik hingga 77,5% dari $124,2 miliar menjadi $220,3 miliar. Peningkatan ini didorong oleh aturan hukum yang semakin jelas di berbagai negara serta tingginya kebutuhan masyarakat untuk mengirim uang ke keluarga maupun transaksi bisnis secara efisien dengan rata-rata nilai transaksi sekitar $3.000.



