Pemerintah Ethiopia memangkas pasokan listrik bagi para miner Bitcoin hingga tersisa 23% dari kuota kontrak resmi, Rabu (16/9). BUMN listrik Ethiopian Electric Power (EEP) terpaksa mengambil kebijakan darurat ini setelah fenomena El Nino memicu kekeringan parah yang memangkas volume debit air di waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hingga 20%. CEO EEP Ashebir Balcha menyatakan pasokan listrik ke fasilitas tambang awalnya diturunkan bertahap ke 75%, lalu 50%, hingga akhirnya ditekan ke level 23% demi memprioritaskan kebutuhan rumah tangga dan sektor manufaktur.
​Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi operasional miner global yang mengandalkan energi hidro murah di negara Afrika Timur tersebut. Selama tahun fiskal terakhir, industri tambang Bitcoin menyerap hampir sepertiga dari total konsumsi listrik nasional dan menyumbang 35% pendapatan bagi EEP. Pihak otoritas listrik menyatakan bakal mengevaluasi ulang kondisi waduk pada Oktober mendatang, dengan opsi pembatasan pasokan lebih lanjut atau penghentian ekspor listrik ke negara tetangga bila pasokan domestik belum pulih.
​Tekanan krisis energi ini datang saat profitabilitas industri penambangan Bitcoin global tengah tertekan pascahalving 2024. Penurunan nilai BTC hingga lebih dari 35% dalam setahun terakhir membuat tingkat profitabilitas hashprice jatuh di bawah titik impas mesin tambang lawas. Situasi kian terhimpit akibat peralihan sebagian fasilitas komputasi ke sektor kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan nilai kontrak jangka panjang lebih stabil dibanding imbal hasil blok Bitcoin saat ini.



