​Pendiri NEAR Protocol, Illia Polosukhin, menegaskan bahwa fragmentasi likuiditas masih menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan tokenisasi saham secara on-chain. Dalam sebuah wawancara di Crypto Coin Show pada Senin (5/10), ia mengungkapkan bahwa likuiditas tokenisasi saham saat ini masih terpecah di berbagai jaringan seperti Solana, Ethereum, hingga Base.
​Kondisi tersebut membuat eksekusi transaksi bernilai besar secara on-chain relatif sulit dilakukan. Polosukhin mencontohkan transaksi saham Nvidia senilai $10 juta yang sangat mudah diproses di bursa Nasdaq, tetapi sukar dieksekusi secara on-chain karena pasar tokenisasi saham yang ada masih terbilang dangkal.
​Untuk mengatasi persoalan ini, NEAR Protocol mengandalkan fitur NEAR Intents yang berfungsi sebagai agregator likuiditas lintas platform. Sistem ini memungkinkan pengguna mengajukan permintaan eksekusi transaksi tanpa harus repot berpindah jaringan atau mencari liquidity pool secara manual, di mana transaksi tersebut nantinya diselesaikan oleh solver yang terhubung dengan penyedia aset seperti Ondo.
​Langkah ini memperkuat integrasi antara Ondo Stocks dan NEAR Intents yang telah meluncur sejak September lalu. Melalui mekanisme agregasi ini, pengguna dapat mengakses likuiditas aset RWA secara terpadu, menghubungkan pasar on-chain langsung dengan bursa terpusat hingga pasar tradisional seperti Nasdaq.



