​Tekanan pada pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali meningkat setelah imbal hasil (yield) US Treasury kembali melonjak pada perdagangan Selasa (1/9). Yield tenor 10-tahun merangkak naik ke kisaran 4,77% hingga mendekati 4,80% atau level tertingginya sejak Januari 2025, sementara tenor 30-tahun sempat menyentuh level 5,286%. Lonjakan ini praktis menghapus sebagian besar penurunan imbal hasil yang sempat terjadi pasca-intervensi Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sekitar dua pekan lalu.
​Memudarnya efek intervensi Departemen Keuangan AS tersebut disinyalir karena dipicu oleh kembalinya eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah dan insiden penyerangan kapal supertanker di Selat Hormuz. Kondisi ini mendongkrak harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 3% ke atas $88 per barel dan Brent menembus $92 per barel, yang secara langsung menyalakan kembali kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi jangka panjang.
​Chief Investment Officer of the Americas UBS, Ulrike Hoffmann-Burchardi, menilai risiko inflasi masih akan membayangi selama jalur perdagangan energi utama belum stabil. Ketidakpastian arah suku bunga The Fed, beban defisit fiskal AS, serta lonjakan penerbitan utang baru terus menahan pasar obligasi di bawah tekanan. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap pelonggaran biaya pinjaman kian memudar menjelang rilis data ketenagakerjaan AS dan agenda rapat FOMC The Fed pada September ini.



