Eskalasi konflik militer di jalur pelayaran vital Timur Tengah meningkat drastis. Sebuah kapal kontainer milik Uni Emirat Arab (UAE) dilaporkan meledak dan tenggelam di koridor selatan Selat Hormuz pada Rabu (14/10) setelah menabrak ranjau laut. Peristiwa ini mencatatkan insiden pertama tenggelamnya kapal komersial akibat ranjau laut sepanjang terjadinya konflik di kawasan tersebut.
​Kapal yang bertolak dari Dubai tersebut membawa lebih dari 2.500 kontainer barang komersial seperti perangkat elektronik iPhone dan produk mewah. Ledakan terjadi di koridor perairan dekat Oman yang berada di bawah pengawasan militer Amerika Serikat, sehingga langsung memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur logistik dan rantai pasok global.
​Menyusul insiden tenggelamnya kapal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui Komandan Angkatan Laut Azmaei menyampaikan pernyataan keras. Pihaknya menegaskan kesiapan militer Iran untuk menargetkan kapal induk AS jika mendekati area Selat Hormuz. Pihak IRGC mengklaim akan mengandalkan rudal balistik berbahan bakar padat Qasem Basir yang memiliki daya jangkau 1.200 kilometer, hulu ledak 500 kg, serta sistem pemandu elektro-optik yang mampu melacak target bergerak tanpa sinyal GPS.
​Menanggapi ketegangan yang kian memanas, armada tempur AS dilaporkan mengamankan posisi. Kapal induk USS George Washington terpantau bergeser sejauh 700 kilometer dari Selat Hormuz untuk menjaga jarak aman dari potensi jangkauan serangan rudal.



