​Analis JPMorgan memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi memperoleh dukungan lebih kuat dibanding emas jika aksi hedging investor institusi pada ETF spot mulai mereda. Melalui laporan riset yang dirilis Rabu (16/9) oleh Nikolaos Panigirtzoglou beserta jajaran timnya, arus inflow ETF emas dan Bitcoin sejatinya telah kembali sejak akhir Juli terdorong tren debasement trade. Meski demikian, recovery emas bergerak jauh lebih cepat dengan membalikkan seluruh outflow yang keluar di awal tahun, sementara ETF Bitcoin baru memulihkan separuhnya.
​Tim analis JPMorgan tersebut memaparkan bahwa tertahannya laju akselerasi Bitcoin disebabkan oleh tingginya posisi short interest serta lonjakan rasio put-to-call open interest pada iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock. Posisi short pada IBIT saat ini masih bertahan mendekati level tertinggi sepanjang tahun, berbanding terbalik dengan ETF emas SPDR Gold Shares (GLD) yang tingkat short interest-nya berada di bawah rata-rata historis. Data posisi ini memperlihatkan institusi masih lebih skeptis dan defensif terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin, dibanding emas.
​Meski sentimen jangka pendek sempat tertekan oleh lonjakan imbal hasil obligasi AS serta mandeknya pembahasan regulasi CLARITY Act, tim analis JPMorgan menilai tingginya posisi defensif tersebut justru menyimpan peluang reversal yang solid bagi Bitcoin. Jika aksi hedging investor institusi pada ETF IBIT mulai berkurang, penurunan tekanan jual itu diproyeksikan menjadi katalis likuiditas utama yang memberi dorongan harga lebih besar bagi Bitcoin hingga mampu mengungguli kinerja emas.



