Pendiri sekaligus Executive Chairman Strategy, Michael Saylor, menilai perkembangan kecerdasan buatan dapat mendorong investor mengalihkan modal ke aset langka seperti Bitcoin. Ia memperkirakan AI akan menekan nilai sejumlah perusahaan yang mengandalkan tenaga kerja dan keahlian manusia.
Menurut Saylor, perusahaan menghadapi risiko ketika bisnisnya tergeser oleh otomatisasi atau investasi pengembangan AI gagal menghasilkan produk yang berhasil. Sebaliknya, ia memperkirakan investor akan mencari aset yang pasokannya sulit diperbanyak, termasuk emas, properti di lokasi premium, dan Bitcoin.
“Investor akan mencari sesuatu yang tidak bisa diperbanyak oleh robot,” ujar Saylor. Ia memproyeksikan Bitcoin tumbuh 20% hingga 30% per tahun selama 20 tahun mendatang. Angka tersebut merupakan perkiraannya, bukan kepastian imbal hasil.
Saylor juga menyoroti kinerja historis Bitcoin yang menurutnya melampaui emas dan indeks S&P 500. Namun, pernyataannya tidak menyebut seluruh saham akan kehilangan nilai atau memastikan “kiamat AI” segera terjadi. Pandangannya berfokus pada potensi perubahan nilai bisnis dan arah investasi akibat perkembangan AI.


.png)
