Jurnalis senior Bloomberg, Joe Weisenthal, mengakui pandangannya terhadap teknologi blockchain mulai bergeser pada Selasa (20/10). Melalui unggahannya di media sosial X, ia menyatakan, "MUNGKIN SAYA SALAH SOAL TEKNOLOGI BLOCKCHAIN. Saya pernah menulis betapa dulu saya selalu mengejek orang-orang yang berkata 'Bitcoin itu spekulatif, tapi teknologi blockchain di belakangnya menarik.' Dan sekarang saya pikir mungkin ada benarnya juga." Pengakuan ini menandai perubahan sudut pandangnya yang dulu kerap memandang sebelah mata fungsi blockchain di luar Bitcoin.
​Perubahan pandangan ini dipicu oleh pesatnya perkembangan instrumen perpetual futures (perps) di ekosistem keuangan terdesentralisasi. Weisenthal menilai perps tidak lagi sebatas alat spekulasi kripto berisiko tinggi, melainkan mekanisme teknis yang efisien untuk melacak harga komoditas, saham, hingga mata uang asing via data oracle. Lebih dari sekadar transaksi antar-pengguna, infrastruktur ini dinilai mampu menjembatani perbedaan sistem antarlembaga keuangan tradisional.
​Sebagai contoh, Weisenthal menyoroti platform Hyperliquid yang berfokus pada instrumen keuangan bernilai ekonomi nyata. Di sana, penerbitan aset dilakukan oleh pihak ketiga melalui lelang berkala untuk mencegah timbulnya koin spekulatif tanpa fungsi. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan penerbit dana kelolaan kelas dunia seperti VanEck kelak membuka operasi atau menerbitkan produk keuangan menggunakan jaringan tersebut.
​Pernyataan ini menjadi sinyal penting mengingat posisi Weisenthal sebagai Editor Eksekutif di Bloomberg News dan pengasuh podcast populer Odd Lots. Pandangannya sering menjadi rujukan bagi para manajer investasi dan pelaku pasar Wall Street. Ketika figur berpengaruh di media arus utama seperti Weisenthal menyarankan pasar tradisional untuk mempelajari teknologi ini, adopsi blockchain terbukti mulai dilirik secara serius oleh sektor keuangan korporat.



