​Visa mengungkapkan bahwa tingkat kenyamanan dan minat masyarakat Amerika Serikat untuk mulai menggunakan stablecoin meningkat drastis. Berdasarkan laporan bertajuk Money Travels 2026, minat calon pengguna untuk memanfaatkan stablecoin melonjak dari 36% menjadi 56% apabila aset digital tersebut dibekali proteksi kecurangan dan asuransi simpanan setara standar perbankan tradisional.
​Riset yang digarap bersama Morning Consult terhadap 2.192 responden dewasa ini menunjukkan bahwa faktor keamanan serta jaminan perlindungan dana menjadi pertimbangan paling krusial. Saat ini, sekitar 56% masyarakat AS mengaku masih belum familiar dengan skema stablecoin. Hasil studi juga menegaskan bahwa tingkat kepercayaan calon pengguna lebih didominasi oleh reputasi lembaga penerbit ketimbang kecanggihan teknologinya, dengan bank komersial (61%) dan jaringan pembayaran global (60%) sebagai entitas paling dipercaya.
​Di saat yang sama, adopsi dan peredaran stablecoin berpatokan dolar AS di tingkat global terus mengalami pertumbuhan pesat. Total pasokan stablecoin di seluruh dunia telah melampaui $295 miliar, dipimpin Tether (USDT) sebesar $183,4 miliar dan Circle (USDC) senilai $76 miliar. Visa sendiri mencatat volume settlement menggunakan stablecoin di jaringannya menembus $20 miliar secara tahunan, melonjak lebih dari 15 kali lipat dibandingkan periode tahun sebelumnya.
​Peningkatan signifikan ini menandakan integrasi antara sistem keuangan konvensional dan aset digital kian erat. Dengan kejelasan regulasi serta standar keamanan teruji yang mengadopsi sistem perlindungan perbankan, stablecoin berpotensi besar bertransformasi dari instrumen spekulatif menjadi sarana pembayaran utama yang diterima luas oleh masyarakat umum maupun pelaku industri.



