Bursa kripto terbesar di dunia Binance merilis laporan awal terkait kasus peretasan senilai $6,34 miliar yang terjadi pada akhir Oktober lalu. Diterbitkan pada Selasa (03/11), laporan tersebut mengungkap bahwa aksi pembobolan canggih ini berawal dari penipuan psikologis (social engineering), pembajakan alat AI internal perusahaan, hingga penyalahgunaan fitur smart contract EIP-7702 pada jaringan Ethereum.
​Aksi penyusupan ini ternyata disiapkan sejak pertengahan tahun. Pada Juni 2026, salah satu developer Binance tanpa sengaja mengunduh perangkat lunak berbahaya saat mencari alat bantu coding. Puncaknya pada September 2026, peretas berpura-pura menjadi rekruter di situs pencari kerja dan menggelar wawancara kerja palsu. Peretas membujuk developer Binance lainnya untuk mengunduh berkas tugas yang ternyata berisi malware.
​Setelah berhasil membobol komputer developer tersebut pada 20 Oktober 2026, peretas memanfaatkan alat AI internal perusahaan untuk mengambil alih akses ke sistem utama. Pada 29 Oktober 2026, peretas mengeksekusi skrip berbahaya dan menguras berbagai aset kripto bernilai $6,34 miliar (seperti XRP, SOL, OP, BTC, dan ETH) ke alamat wallet milik mereka.
​Peretas memanfaatkan fitur teknis jaringan Ethereum agar aset bisa terus dikirim keluar secara otomatis tanpa lewat menu penarikan resmi Binance. Meski demikian, tim keamanan Binance bergerak cepat menghentikan kebocoran dan berhasil membekukan aset senilai $2,85 miliar bersama mitra industri. Informasi terbaru dari FBI resmi mengaitkan serangan besar ini dengan kelompok peretas yang disokong pemerintah Korea Utara.
​Manajemen Binance menegaskan pengguna tidak akan dirugikan sedikit pun dan seluruh kerugian finansial ditanggung penuh menggunakan dana cadangan internal (SAFU Funds). Saat ini sekitar 98% aset terdampak dilaporkan telah dipulihkan. Binance juga telah merombak total sistem internal yang diretas, memperketat keamanan AI, serta menyewa ahli siber independen untuk pemeriksaan menyeluruh.



