Harga Bitcoin (BTC) anjlok menuju $80.000, sementara Ethereum (ETH) merosot hingga menembus $2.400 pada Kamis (15/10/2026). Penurunan tajam ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi Amerika Serikat, aksi jual saham teknologi global, serta gelombang likuidasi di pasar kripto.
Tekanan utama datang dari data inflasi AS September yang lebih tinggi dari perkiraan. Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan inflasi (CPI) tahunan mencapai 3,7%, melampaui ekspektasi 3,6%. Kondisi tersebut memunculkan kembali kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga pada Oktober.
Sentimen negatif juga melanda pasar saham Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan merosot sekitar 5,6%, sementara Nikkei Jepang melemah 1,3%. Aksi jual saham teknologi dan kekhawatiran terhadap valuasi perusahaan AI turut mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk kripto.
Dari sisi institusional, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar $150,5 juta pada 14 Oktober, berdasarkan data Farside Investors. Kondisi ini menambah tekanan terhadap sentimen pasar Bitcoin.
Sementara itu, WatcherGuru melaporkan likuidasi posisi long kripto mencapai $350 juta hanya dalam 10 menit. Penutupan paksa posisi futures dengan leverage tinggi berpotensi mempercepat penurunan harga, meskipun angka likuidasi tersebut belum terkonfirmasi secara independen.


.png)
