CEO Strategy, Phong Le, merespons keraguan pasar terkait aksi perseroan yang sempat menjual Bitcoin di kisaran $60.000 hingga $65.000 sebelum kembali membeli di harga $80.000. Dalam wawancara di Bloomberg Crypto pada Selasa (1/9), Le menegaskan transaksi treasury perseroan berpatokan pada efisiensi biaya modal (cost of capital) dan bukan fluktuasi harga pasar semata. Menurutnya, keputusan tersebut rasional karena dieksekusi pada kondisi likuiditas dan struktur neraca yang berbeda.
​Sejak meninggalkan prinsip "Never Sell", Strategy tercatat melepas total kumulatif 6.948 BTC demi likuiditas operasional. Rinciannya meliputi penjualan perdana 32 BTC senilai $2,5 juta pada Mei 2026, penjualan terbesar 3.588 BTC senilai $216 juta pada awal Juli, serta 1.638 BTC pada Agustus untuk pembayaran dividen saham preferen dan cadangan dolar AS. Alih-alih menimbun Bitcoin secara pasif, perseroan kini menerapkan strategi dua arah (two-way strategy) dengan memanfaatkan sebagian kecil portofolio demi stabilitas kas.
​Langkah restrukturisasi tersebut sukses menyehatkan postur neraca perseroan. Laporan keuangan per 30 Agustus mencatat simpanan kas dolar AS Strategy menembus $6,71 miliar, hampir menyamai nilai utang konvertibel perseroan sebesar $6,75 miliar hingga rasio net leverage turun menjadi 0,0%. Le menegaskan neraca perusahaan kini kokoh layaknya benteng pertahanan tanpa risiko likuidasi paksa karena seluruh utang berjalan tidak dijaminkan langsung oleh Bitcoin.
​Usai membenahi posisi kas, Strategy langsung kembali tancap gas mengakumulasi 4.603 BTC senilai $369,7 juta pada harga rata-rata $80.318 per BTC pekan lalu melalui penerbitan saham biasa MSTR. Akuisisi tersebut mengerek total kepemilikan perseroan menjadi 845.050 BTC atau melampaui 4% dari pasokan maksimal Bitcoin global. Le memastikan Strategy tetap membuka peluang menambah kepemilikan di level $90.000 hingga $130.000 per BTC selama perhitungan biaya modal tetap menguntungkan pemegang saham.



