CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bantalan pasokan minyak global kini berada pada level yang sangat tipis setelah konflik di Timur Tengah mengganggu aliran energi dan menguras persediaan dunia. Bahkan jika kondisi membaik, stok minyak diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk kembali pulih.
Menurut Nasser, dunia memasuki krisis dengan hampir 10 miliar barel stok minyak. Sejak konflik berlangsung, hampir 3 miliar barel pasokan minyak hilang, sementara lebih dari 1 miliar barel telah ditarik dari persediaan untuk menutup kekurangan tersebut. Saat ini, stok komersial diperkirakan tersisa kurang dari 6 miliar barel dan sebagian besarnya tidak mudah digunakan.
Tekanan semakin besar akibat terganggunya Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman energi terpenting dunia. Nasser mengatakan tekanan terhadap minyak mentah maupun produk olahan akan terus meningkat sampai Hormuz kembali dibuka penuh dan kepercayaan terhadap jalur tersebut pulih.
Masalah juga terjadi pada produk olahan. CEO Kuwait Petroleum Shaikh Nawaf Al-Sabah memperkirakan pasar global kekurangan sekitar 6 juta barel per hari produk bahan bakar akibat terganggunya kapasitas kilang di Timur Tengah.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. Pada perdagangan Senin, Brent ditutup di $100,32 per barel, sementara WTI berada di $89,43 per barel meski harga sempat turun setelah ekspor Timur Tengah meningkat dan negara G7 menjanjikan pelepasan cadangan darurat.


.png)
