


​Firma keamanan siber CertiK memperingatkan adanya ketimpangan besar di sektor DeFi akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh peretas. CEO CertiK, Ronghui Gu, menyebut kondisi ini sebagai permainan yang tidak adil karena AI memungkinkan penyerang menemukan dan mereplikasi eksploitasi dengan kecepatan yang melampaui tim pertahanan. Data mencatat kerugian DeFi menembus $690 juta sepanjang April 2026, salah satu angka bulanan tertinggi dalam sejarah.
​Analisis CertiK menunjukkan pergeseran fokus serangan dari celah kode smart contract ke titik lemah operasional dan rantai pasokan (supply chain). Integrasi AI memudahkan peretas mengidentifikasi infrastruktur pendukung yang kurang diawasi, seperti pada kasus eksploitasi Drift Protocol dan Kelp DAO. Hal ini membuktikan bahwa standar audit konvensional mulai tertinggal oleh metode serangan yang terotomatisasi dan lebih masif.
​Menghadapi tren ini, industri didesak untuk mengadopsi verifikasi formal dan mempererat kolaborasi antar-protokol guna mempercepat respons insiden. Kecepatan AI dalam melakukan eksploitasi menuntut sistem pembekuan aset yang jauh lebih instan antara bursa dan penyedia keamanan. Tanpa pembaruan standar pertahanan yang setara, protokol DeFi akan terus berada dalam posisi rentan terhadap serangan AI yang semakin presisi