Iran dikabarkan secara resmi memutuskan untuk mengubah postur strategisnya dari defensif menjadi "ofensif penuh" (fully offensive) di tengah kebuntuan diplomasi gencatan senjata permanen dengan Amerika Serikat. Seorang pejabat senior Iran menyampaikan kepada Reuters pada Senin (17/8) bahwa Iran menetapkan tenggat waktu beberapa pekan bagi Washington untuk mengimplementasikan seluruh butir nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati sebelumnya.
​Iran menegaskan tidak akan membiarkan blokade angkatan laut AS berlangsung tanpa batas waktu, seraya menginstruksikan seluruh elemen operasionalnya untuk bersiap melakukan eskalasi di kawasan Selat Hormuz. Pihak Iran menilai jalur mediasi saat ini tidak lagi realistis untuk mencapai perdamaian permanen jika tidak diimbangi kepatuhan nyata dari pihak AS.
​Perubahan sikap politik tersebut langsung tercermin di perairan strategis kawasan setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menahan sebuah kapal tanker minyak milik perusahaan Uni Emirat Arab (UEA) di dekat Pulau Qeshm. Laporan kantor berita semi-resmi Fars menyebutkan penyitaan dilakukan karena kapal tersebut menolak mengikuti rute navigasi utara serta mangkir dari pembayaran biaya layanan maritim (service fees) yang diwajibkan oleh otoritas Iran.



