

.png)
.png)

Perekonomian China dilaporkan melambat ke tingkat terendah dalam lebih dari tiga tahun di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Perlambatan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Melemahnya aktivitas ekonomi China terjadi ketika konflik di Timur Tengah kembali meningkat, memicu lonjakan harga energi dan ketidakpastian di pasar keuangan. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, perlambatan China berpotensi memberikan dampak terhadap perdagangan internasional, permintaan komoditas, hingga rantai pasok global.
Konflik antara AS dan Iran juga meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi dan meningkatkan biaya produksi bagi banyak negara, termasuk China yang merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia.
Kombinasi perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko geopolitik berpotensi menekan sentimen investor global. Pasar saham cenderung lebih volatil, sementara investor biasanya mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS ketika ketidakpastian meningkat.