Sekitar 6,26 juta Bitcoin (BTC) atau 31,2% dari total pasokan berada di alamat yang kunci publiknya telah terekspos, sehingga berpotensi menghadapi ancaman komputer kuantum di masa depan. Temuan ini diungkapkan salah satu pendiri Glassnode, Rafael.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan awal 2021, ketika proporsi Bitcoin dengan kunci publik terekspos masih sekitar 24,8%.
Dari total 6,26 juta BTC, sekitar 4,33 juta BTC terekspos akibat penggunaan ulang alamat dompet. Sementara itu, 1,94 juta BTC lainnya memiliki kunci publik yang langsung terlihat melalui jenis transaksi seperti Pay-to-Public-Key (P2PK) dan Taproot.
Risiko serupa juga ditemukan pada aset milik bursa kripto. Sekitar 1,79 juta BTC atau 57% dari total Bitcoin yang teridentifikasi berada di bursa memiliki kunci publik terekspos, naik dari 55% pada Mei 2026.
Secara teori, komputer kuantum yang cukup canggih berpotensi memanfaatkan kunci publik untuk menghitung kunci privat Bitcoin. Namun, teknologi komputer kuantum saat ini belum terbukti mampu melakukan serangan tersebut terhadap sistem kriptografi Bitcoin dalam praktik nyata.
Rafael menegaskan bahwa data tersebut hanya menunjukkan tingkat keterbukaan kunci publik berdasarkan aktivitas blockchain, bukan berarti Bitcoin tersebut telah diretas atau tidak aman. Temuan ini juga bukan penilaian terhadap keamanan bursa maupun perusahaan kustodian kripto.


.png)
