


​Kelompok Houthi di Yaman secara resmi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Senin (20/7). Berdasarkan sejumlah laporan internasional yang beredar, Houthi mengancam akan menembaki setiap kapal komersial maupun tanker yang menuju atau keluar dari pelabuhan Arab Saudi saat melintasi Selat Bab al-Mandeb dan Laut Merah. Keputusan ini memicu eskalasi geopolitik tingkat tinggi yang berpotensi melumpuhkan titik-titik maritim paling krusial di wilayah Timur Tengah.
​Ancaman ini menjadi risiko fatal bagi pasokan energi global karena Arab Saudi sangat bergantung pada Selat Bab al-Mandeb untuk mengekspor sekitar 4,5 juta barel minyak mentah per hari. Jika ancaman ini digabungkan dengan kendali penuh Iran di Selat Hormuz, Arab Saudi berisiko kehilangan seluruh jalur ekspor utama mereka. Akibatnya, kapal-kapal yang menghindari area tersebut terpaksa mengambil rute logistik panjang mengelilingi benua Afrika menuju Eropa, yang memperpanjang waktu tempuh dari 14 hari menjadi lebih dari satu bulan.
​Seorang pejabat senior Houthi, yang menjadi sumber utama pengumuman ini, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil karena sangat tidak dapat diterima bagi Riyadh untuk melanjutkan ekspor minyak sementara Yaman masih diblokade. Potensi terganggunya Pipa Timur-Barat Arab Saudi ini langsung direspons dengan cepat oleh pasar energi. Saat artikel ini diterbitkan, harga minyak mentah berjangka Brent telah melonjak ke level $89 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level $82 per barel.