Saudi Aramco resmi membatalkan seluruh alokasi pengiriman kargo minyak mentah ke Eropa untuk sisa bulan September hingga akhir Oktober mendatang, Selasa (15/9). Pembatalan akibat keadaan force majeure ini menyusul rusaknya jaringan pipa East-West Pipeline serta serangan terhadap kilang minyak YASREF di pelabuhan Yanbu akibat gempuran militer kelompok Ansarallah Yaman.
​Menurut laporan tiga sumber industri kepada Reuters, penutupan jalur pipa transmisi tersebut membuat cadangan minyak mentah di terminal Yanbu menipis dengan sisa stok ekspor hanya cukup untuk lima hingga tujuh hari ke depan. Akses logistik kian lumpuh karena rute Selat Hormuz belum pulih sejak musim semi lalu dan perairan Selat Bab el-Mandeb masih dikuasai penuh oleh kelompok Ansarallah, sehingga negara-negara di Eropa diperkirakan tidak akan menerima pengiriman kargo minyak dari Saudi setidaknya hingga November mendatang.
​Krisis pasokan mendadak ini langsung mendongkrak harga minyak mentah Amerika Serikat melesat di atas level $106 per barel, level tertinggi sejak Mei lalu, serta mengerek harga bahan bakar eceran AS ke angka $4,33 per galon. Jika eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi kembali melonjak lebih tinggi, terutama menjelang peningkatan kebutuhan konsumsi energi pada musim dingin.



