Iran dilaporkan kian memandang dimulainya kembali perang skala penuh melawan Amerika Serikat sebagai hal yang tak terelakkan pada Rabu (19/8). Mengutip laporan FT dari sumber internal pejabat senior Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tengah menyusun rencana untuk melancarkan serangan langsung terhadap sasaran militer AS di kawasan Eropa. Langkah pembalasan tanpa batas tersebut disiapkan apabila tenggat waktu ultimatum 3–4 pekan yang diajukan Iran tidak dipenuhi dan Presiden Donald Trump kembali meningkatkan eskalasi militer.
​Pejabat senior Iran menegaskan bahwa negaranya akan membela diri dengan segala cara, termasuk menargetkan pangkalan militer yang menampung aset AS di Eropa Tenggara dan Mediterania, seperti Pangkalan Udara Bezmer di Bulgaria serta RAF Akrotiri di Siprus, hingga opsi sabotase jaringan kabel internet serat optik bawah laut (subsea fiber-optic cables) di Selat Hormuz. Pihak Iran turut menggarisbawahi serangan roket bulan lalu ke pangkalan AS di Yordania yang menewaskan tiga tentara Amerika Serikat sebagai bukti meningkatnya presisi persenjataan jarak jauh mereka sekaligus pesan peringatan langsung bagi negara-negara Eropa dalam menyikapi eskalasi konflik ini.
​Sementara itu, dalam konferensi pers di Gedung Putih, Presiden Donald Trump justru menegaskan bahwa kampanye tekanan maksimal terhadap Iran berjalan efektif dan membuka opsi penjatuhan sanksi ekonomi yang jauh lebih keras. Trump mengklaim jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz tetap berjalan aktif dengan banyaknya kapal yang melintas, sembari menegaskan bahwa operasi blokade laut militer AS telah berhasil 100% mencegah kapal-kapal logistik mencapai wilayah Iran



