Lonjakan harga Bitcoin hingga melampaui estimasi biaya produksi di kisaran $85.000 menjadi angin segar bagi para miner sekaligus meredakan risiko aksi jual masif di pasar. Melansir artikel resmi analis JPMorgan yang terbit pada Rabu (23/10), momen ini mengakhiri tren negatif setelah Bitcoin tertahan di bawah modal produksinya selama 280 hari, meski saat ini harganya sedang terkoreksi ke kisaran $84.000 usai sempat meroket menembus $87.000. Tim analis pimpinan Nikolaos Panigirtzoglou menjelaskan bahwa biaya produksi merupakan batas aman harga Bitcoin, di mana posisi di bawah level tersebut kerap memaksa miner melepas cadangan aset demi menutupi operasional.
​Guna bertahan di tengah ketatnya margin keuntungan, para miner mengalihkan kapasitas komputasi mereka ke industri kecerdasan buatan (AI). Pergeseran ini memicu penurunan hash rate jaringan Bitcoin hingga 19% dari titik puncaknya pada Oktober 2025 lalu, diikuti pelonggaran tingkat kesulitan penambangan sekitar 15%. Para miner publik kian gencar mengejar kontrak jangka panjang dengan perusahaan AI karena menjanjikan pendapatan yang lebih stabil dan menguntungkan.
​Diversifikasi ke sektor AI ini dinilai berdampak positif bagi ekosistem Bitcoin. Selain mencegah kepadatan jaringan akibat laju hash rate yang terlalu agresif, keterlibatan miner di infrastruktur AI diproyeksikan menahan lonjakan biaya produksi Bitcoin agar tidak naik terlalu cepat di luar siklus halving.



