​Eskalasi konflik di Timur Tengah kian membara usai kelompok Ansharallah yang dipimpin oleh Abdul-Malik al-Houthi dilaporkan berhasil menguasai penuh pesisir Laut Merah di Yaman pada Senin (14/9), yang secara efektif memberi mereka kendali atas Selat Bab el-Mandeb. Jalur minyak dunia ini mencatat arus lintas harian hingga 9 juta barel minyak mentah, atau setara 9% dari permintaan global yang kini berisiko lumpuh. Ancaman disrupsi pasokan energi berskala besar ini langsung memicu lonjakan harga di pasar komoditas, di mana per pukul 00.41 WIB harga minyak mentah Brent naik ke level $106 per barel dan WTI bertengger di $101 per barel.
​Situasi makin memburuk menyusul pernyataan juru bicara militer Ansharallah, Yahya Saree, yang mengonfirmasi peluncuran puluhan rudal balistik serta drone tempur ke arah Pangkalan Udara King Khalid di wilayah selatan Arab Saudi. Yahya secara terbuka memperingatkan bakal menggelar serangan berskala lebih luas ke infrastruktur strategis Arab Saudi apabila operasi militer terhadap Yaman terus berlanjut.
​Merespons ancaman langsung terhadap pasokan energi tersebut, manuver diplomasi tingkat tinggi digulirkan oleh Arab Saudi. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dijadwalkan bertolak ke Kairo pada Selasa (15/9) untuk menggelar pembicaraan darurat bersama Presiden Mesir Abdelfattah El-Sisi. Pertemuan bilateral tersebut difokuskan pada pengamanan koridor Laut Merah, pemulihan stabilitas Selat Bab el-Mandeb, antisipasi serangan lanjutan, serta mitigasi luapan konflik kawasan yang kian meluas.
​Selain menjalin koordinasi dengan Mesir, laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Arab Saudi juga telah meminta bantuan diplomatik dan militer kepada Inggris guna menangkal serangan Ansharallah. Permintaan Arab Saudi tersebut mencakup bantuan operasional maritim di pesisir Yaman serta sistem pertahanan udara untuk melindungi infrastruktur minyak negaranya. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham kini tengah mempertimbangkan opsi keterlibatan tersebut di tengah kekhawatiran London atas ancaman pukulan ekonomi global akibat disrupsi energi yang kian tak terkendali.



