

.png)
.png)

Nilai tukar rupiah kembali melemah melewati Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Meningkatnya konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta perkembangan ekonomi global. Kombinasi ketidakpastian tersebut membuat volatilitas di pasar keuangan tetap tinggi dan membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.