​Sektor energi di Timur Tengah kembali menghadapi ancaman krisis hebat menyusul eskalasi konflik di dua front strategis kawasan secara bersamaan. Di Selat Hormuz, militer Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap armada kapal tanker minyak milik Iran. Aksi ini merupakan respons atas tembakan rudal balistik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dalam pernyataan resminya di Washington pada Selasa (8/9) waktu setempat, menegaskan bahwa AS akan memusnahkan kapal tanker milik Iran setiap kali ada upaya serangan ke armada Amerika Serikat, guna memangkas kapasitas ekspor shadow fleet dan sumber devisa negara tersebut.
​Tekanan pasokan diperparah oleh lumpuhnya infrastruktur minyak Arab Saudi. Mengutip laporan Financial Times, kilang Jizan milik Saudi Aramco yang berkapasitas 400.000 barel per hari kembali dihantam puluhan rudal balistik serta drone kelompok Houthi pada Senin (6/9). Infrastruktur vital ini tercatat belum beroperasi penuh sejak akhir Juli akibat kerusakan tangki penyimpanan dan kompleks pembangkit listrik, hingga menyebabkan volume pengiriman diesel dari lokasi tersebut anjlok menjadi nol sepanjang Agustus. Di samping itu, rangkaian serangan kelompok Houthi ke sejumlah kota di Arab Saudi dilaporkan melukai 73 orang serta merusak berbagai bangunan publik.
​Meskipun Arab Saudi berupaya mengalihkan rute kargo minyak mentah melalui pipa East-West ke Laut Merah, hilangnya kapasitas pengilangan serta ancaman penutupan Selat Hormuz tetap mendorong kenaikan harga minyak di bursa komoditas. Minyak mentah Brent naik ke $100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9), mengakumulasi kenaikan sekitar 43% sejak awal Juli. Di saat bersamaan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut terangkat ke kisaran $95 per barel seiring meluasnya kekhawatiran disrupsi pasokan energi global.
​Kembalinya harga minyak ke level ini memicu sentimen risk-off di pasar finansial global. Lonjakan biaya energi diyakini bakal mengerek kembali ekspektasi inflasi, membatasi ruang pelonggaran likuiditas bank sentral, serta memberi tekanan tambahan bagi stabilitas aset berisiko.



