


​Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyatakan bahwa Gedung Putih mengambil langkah pragmatis dengan mengizinkan tanker minyak Iran melintasi Selat Hormuz guna menstabilkan harga energi global. Kebijakan ini merupakan anomali strategis di tengah tensi yang memanas, namun dipandang perlu untuk menghindari lonjakan inflasi akibat potensi penutupan jalur pengapalan tersebut. Di saat yang sama, sekutu utama seperti Jerman dan Inggris secara tegas menolak untuk terseret ke dalam perang yang lebih luas di wilayah tersebut.
​Berdasarkan laporan Financial Times, Prancis dan Jepang juga telah menolak prospek pengiriman kapal militer guna mengamankan jalur tersebut. Keengganan para sekutu memaksa Washington menempuh jalur diplomasi rahasia. Saluran komunikasi dikabarkan tetap terbuka melalui kontak pesan teks antara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dalam beberapa hari terakhir guna meredakan situasi di lapangan.
​Pihak Iran sendiri menyatakan bahwa pembatasan di Selat Hormuz hanya ditujukan bagi negara-negara yang menyokong agresi terhadap mereka. Manuver AS yang memberikan lampu hijau bagi tanker Iran ini menunjukkan prioritas Washington dalam mencegah oil shock yang dapat melumpuhkan ekonomi global. Fokus dunia kini tertuju pada hasil kesepakatan jalur belakang antara AS dan Iran untuk menjamin kelancaran distribusi minyak dunia tanpa konfrontasi militer