


​Pasar saham tertokenisasi yang selama ini dikenal sebagai sistem tanpa perantara ternyata masih sangat bergantung pada pialang saham tradisional. Perusahaan pialang resmi asal California, Alpaca Securities, tercatat menguasai sekitar 94% transaksi perdagangan dan penyimpanan saham asli yang menjadi jaminan token tersebut.
​Hingga Juli 2026, Alpaca Securities mengelola saham asli senilai lebih dari $1,5 miliar sebagai jaminan utama dari saham tertokenisasi yang beredar di berbagai bursa kripto. Kehadiran pialang terdaftar ini menjadi pilar utama bagi platform kripto besar seperti Binance, Kraken, Ondo, dan Dinari dalam menyediakan token saham perusahaan AS seperti Apple atau Nvidia bagi pengguna global.
​Dalam skema ini, Alpaca Securities bertugas membeli saham asli di pasar modal resmi AS, menyimpannya sesuai aturan hukum instrumen keuangan, lalu memproses pencetakan token agar nilainya sesuai dengan saham asli secara real-time. Perusahaan ini juga menangani pembagian dividen hingga pemecahan saham untuk seluruh saham tertokenisasi yang beredar di platform mitranya.
​Ketergantungan yang sangat tinggi pada satu entitas pialang ini memicu sorotan terkait risiko perantara di industri kripto. Selain itu, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) mengingatkan bahwa sebagian besar saham tertokenisasi dari pihak ketiga saat ini hanya memberikan hak nilai ekonomi tanpa memberikan hak suara resmi sebagai pemegang saham asli.
​Persaingan di industri ini diprediksi makin ketat pada Oktober 2026 mendatang, saat lembaga kliring utama AS, DTCC, menjadwalkan peluncuran layanan tokenisasi resminya sendiri. Langkah DTCC tersebut berpotensi mengubah peta persaingan dan menantang dominasi Alpaca Securities di pasar saham tertokenisasi global.