Binance menghadapi krisis keamanan terbesar setelah hot wallet milik mereka mengalami eksploitasi masif dengan estimasi kerugian mencapai lebih dari $5,6 miliar. Berdasarkan pantauan data on-chain aset yang terkuras dari berbagai jaringan seperti Ethereum, Bitcoin, dan Tron mencakup USDT senilai $2,29 miliar, 18.270 BTC senilai $1,45 miliar, serta USDC senilai $823 juta. Peretas juga melarikan sekitar 197.170 ETH senilai $451 juta, RLUSD sebesar $88,6 juta, wBETH senilai $75,3 juta, XAUt senilai $50,5 juta, serta sejumlah altcoin seperti UNI, ENA, dan PEPE.
​Upaya mitigasi darurat langsung digencarkan melalui mekanisme pembekuan dari penerbit stablecoin. Tether dilaporkan berhasil membekukan sekitar $975,1 juta USDT, sementara Circle mengamankan $823 juta USDC, sehingga total dana yang berhasil diselamatkan mencapai kisaran $1,8 miliar. Kendati demikian, langkah tersebut masih kurang efektif karena Bitcoin dan sebagian besar Ethereum berada di luar kendali pembekuan paksa melalui smart contract. Desentralisasi jaringan membuat dana curian tersebut kebal dari intervensi pihak ketiga.
​Kabar mengenai insiden ini langsung memicu tekanan di industri kripto. Harga berbagai aset langsung tertekan tajam, di mana Bitcoin merosot di bawah level $79.000 dan BNB terkoreksi sekitar 7%. Tekanan jual yang agresif ini turut memicu likuidasi massal pada posisi perpetual futures bernilai ratusan juta dolar dalam waktu singkat.
​Hingga saat ini, pihak manajemen Binance menyatakan bahwa investigasi internal masih berlangsung secara intensif untuk mengaudit celah keamanan dan memvalidasi dampak penuh terhadap aset pengguna. Jika seluruh kerugian on-chain ini terkonfirmasi secara utuh, insiden tersebut dipastikan akan tercatat sebagai peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto global, melampaui rekor-rekor insiden hack exchange sebelumnya.



