asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BANKUSDT0.16264-0.06385 ( -28.19% )
BTCUSDT63,569.5-350.28 ( -0.55% )
COTIUSDT0.017+0.00635 ( +59.62% )
DEXEUSDT2.811-0.178 ( -5.96% )
DOGEUSDT0.0697-0.00116 ( -1.64% )
ETHUSDT1,890.71-29.44 ( -1.53% )
HYPEUSDT53.36-1.99 ( -3.6% )
SOLUSDT72.95-1.21 ( -1.63% )
XRPUSDT1.0729+0.0072 ( +0.68% )
Powered by
News - Technology

Manfaatkan Celah Hukum, Developer AI Hancurkan Ribuan Buku Cetak Usai Digitalisasi

User
July 29, 2026 | 06:58 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
July 29, 2026 | 06:58 WIB
Manfaatkan Celah Hukum, Developer AI Hancurkan Ribuan Buku Cetak Usai Digitalisasi

​Para pengembang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memanfaatkan celah dalam hukum hak cipta untuk memindai dan menghancurkan ribuan buku cetak. Praktik kontroversial yang dikenal sebagai destructive scanning ini dilakukan demi memasok materi teks berkualitas tinggi secara masif guna melatih model large language models/LLM).

​Strategi ini melingkupi proses memotong jilid buku, memisahkan lembaran halaman, dan memindainya menggunakan pemindai otomatis berkecepatan tinggi. Setelah seluruh halaman terkonversi menjadi data digital, buku fisik tersebut langsung dihancurkan atau dibuang. Pengembang AI menerapkan metode ekstrem ini untuk mengejar efisiensi biaya dan waktu ketimbang harus membeli lisensi digital resmi yang mahal atau memproses buku secara manual.

​Praktik ini kian menjadi sorotan publik menyusul persidangan kasus Bartz v. Anthropic PBC. Dalam perkara tersebut, argumen hukum berfokus pada doktrin fair use (penggunaan wajar), di mana perusahaan teknologi mengklaim bahwa membeli buku cetak secara sah memberi mereka hak untuk mendigitalisasi kontennya selama data tersebut digunakan untuk tujuan transformatif seperti pelatihan AI.

​Meski demikian, aksi ini memicu gelombang protes keras dari komunitas penulis dan asosiasi penerbit. Mereka menilai bahwa tindakan memusnahkan karya literatur demi meraup keuntungan komersial merupakan bentuk pelanggaran moral dan ekspansi agresif yang merugikan ekosistem perbukuan. Di lain sisi, para pelaku industri AI bergeming dan menganggap akses terhadap teks buku fisik sangat krusial untuk meningkatkan pemahaman bahasa serta penalaran model AI masa depan.

Copiedbagikan