Dinas intelijen Rusia dilaporkan membajak jaringan komunitas Telegram untuk merekrut kalangan remaja di Inggris dan Eropa, Rabu (16/9). Riset Institute for Strategic Dialogue (ISD) mengungkapkan, aktor yang berafiliasi dengan Moskow memanfaatkan grup obrolan Com networks demi membujuk generasi muda menjalankan aksi vandalisme, sabotase, hingga kekerasan fisik di dunia nyata dengan imbalan aset kripto.
​Investigasi menemukan kaitan jaringan ini dengan sedikitnya dua aksi perusakan properti di Inggris, termasuk insiden pelemparan batu ke mobil pekerja perawatan lansia di Bedford. Sepekan setelah insiden tersebut, kepolisian Ukraina menangkap dua remaja berusia 11 dan 15 tahun yang diduga merencanakan penyerangan bersenjata ke sekolah mereka atas perintah operator Telegram pro-Rusia. Badan Keamanan Ukraina (SBU) menegaskan jejaring grup ini merupakan bagian dari operasi intelijen terstruktur Moskow demi memicu kekacauan kawasan.
​Peneliti ISD Steven Rai memaparkan, imbalan finansial berupa aset kripto, seperti ribuan dolar stablecoin USDT untuk aksi pembakaran, menandai eskalasi baru taktik perang hibrida (grey zone) Rusia di Barat. Kelompok daring ini bahkan membagikan panduan perakitan bahan peledak, senjata, hingga racun demi merekrut agen lepas yang mudah dikorbankan (disposable agents). Menyikapi ancaman ini, Badan Kejahatan Nasional Inggris (NCA) bersama Kepolisian Kontraterorisme langsung membentuk satuan tugas gabungan guna memutus manipulasi pemuda oleh intelijen asing.



