Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memberikan otoritas khusus kepada pemerintah untuk menjalankan negosiasi diplomatik di tengah berlangsungnya dialog tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS) melalui mediasi Qatar. Dalam rapat bersama para gubernur dan wali kota per Senin (02/11), Presiden Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah mengupayakan penyelesaian konflik serta keluar dari kondisi "tidak perang maupun damai," meski ia belum merincikan jangkauan mandat tersebut.
​Sinyal diplomasi tersebut beriringan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu (31/10), yang menegaskan bahwa Presiden Donald Trump lebih memilih penyelesaian diplomatik ketimbang melancarkan serangan baru. Kendati AS mempertahankan opsi tindakan militer jika diperlukan, Rubio memastikan komunikasi dengan pihak Tehran terus berjalan baik secara langsung maupun melalui perantara Qatar di Doha, tanpa menetapkan tenggat waktu tertentu.
​Kendati peluang damai mulai terbuka, bayang-bayang eskalasi militer tetap mengancam kawasan setelah Khamenei menginstruksikan komandan senior untuk menyiapkan balasan langsung dan efektif tanpa batasan geografis apabila terjadi ancaman musuh. Di saat bersamaan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum blokade angkatan laut AS dihentikan dan tuntutan legitimasi Iran dipenuhi.
​Dinamika perundingan diplomasi yang membawa angin segar ini langsung direspons cepat oleh pasar komoditas global. Harga minyak mentah mengalami penurunan tajam sebesar 6 persen, memangkas minyak mentah jenis Brent ke posisi $106 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) jatuh ke level $97 per barel.



