


​Ancaman Komputer Kuantum terhadap industri kripto naik ke level baru setelah seorang peneliti independen bernama Giancarlo Lelli mengklaim berhasil membobol protokol keamanan Bitcoin hanya dalam 45 menit. Melalui sebuah kompetisi peretasan berhadiah 1 Bitcoin, peneliti tersebut sukses memecahkan algoritma Elliptic Curve Cryptography (ECC) 15-bit menggunakan komputer kuantum publik. Keberhasilan ini membuktikan bahwa Public Key yang menjadi identitas alamat wallet kini mulai rentan terhadap serangan masa depan yang dapat mengancam aset digital senilai $2,5 triliun.
​Metode yang digunakan adalah pengembangan dari Algoritma Shor, sebuah prosedur matematika yang dirancang untuk membedah enkripsi kunci publik dengan sangat cepat melalui komputasi kuantum. Hasil studi terbaru menunjukkan efisiensi serangan ini meningkat drastis; jumlah qubit yang dibutuhkan untuk membobol enkripsi penuh Bitcoin anjlok hingga 1.300 kali lipat lebih rendah dibanding estimasi tahun 2022. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di pasar institusi, bahkan BlackRock mulai memperingatkan investor ETF mereka akan risiko kerugian total akibat teknologi ini.
​Risiko terbesar saat ini mengintai sekitar 6,9 juta BTC yang Public Key miliknya sudah terpapar secara on-chain, termasuk simpanan 1,1 juta BTC milik Satoshi Nakamoto. Tanpa migrasi massal ke standar Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC), aset-aset lama tersebut terancam oleh strategi "Harvest Now, Decrypt Later". Dalam skema ini, aktor jahat mulai mengumpulkan data transaksi hari ini untuk kemudian dibuka paksa begitu perangkat keras kuantum mencapai skala komersial dalam beberapa tahun ke depan.