​Perusahaan logistik dan kredit pertanian asal India, Arya.ag, tengah menguji coba sistem tokenisasi resi gudang komoditas beras berbasis blockchain Layer-1 khusus di jaringan Avalanche. Melansir rilis resmi perusahaan pada Kamis (10/9), Arya.ag berkolaborasi dengan Finternet guna mengintegrasikan data penyimpanan hasil panen gabah dan beras, resi gudang, komitmen jaminan, hingga status pinjaman secara terpadu di dalam satu sistem pencatatan terdesentralisasi yang transparan.
​Head of India Ava Labs, Devika Mittal, mengonfirmasi bahwa tahap pengujian saat ini tengah berlangsung dan setiap resi yang ditokenisasi nantinya berfungsi merepresentasikan bukti kepemilikan sah atas komoditas yang tersimpan. Kendati demikian, pihak pengembang belum mengumumkan jadwal peluncuran resmi ke publik maupun total volume awal beras dan fasilitas kredit yang akan dicakup dalam penerapan perdana sistem tersebut.
​Direktur Finternet Labs, Sanmesh Kalyanpur, memaparkan bahwa data gabungan yang mencakup profil petani, komoditas, gudang, serta asuransi akan dirangkum ke dalam satu composite token yang dapat dimanfaatkan pihak perbankan dalam memitigasi risiko jaminan pinjaman. Sistem ini diharapkan mempermudah petani mengakses likuiditas berbasis hasil panen tersimpan (electronic warehouse receipts) tanpa harus menjual komoditas beras secara terburu-buru usai panen, meski keakuratannya tetap bergantung pada verifikasi fisik di lapangan.
​Saat ini, jaringan Arya.ag menaungi penyimpanan komoditas senilai sekitar $2 miliar di lebih dari 12.000 gudang, serta menyalurkan pembiayaan tahunan mencapai 120 miliar rupee atau sekitar $1,26 miliar. Kendati proyek ini belum meluncurkan aset secara penuh ke onchain, langkah uji coba ini mempertegas ekspansi integrasi aset dunia nyata (RWA) di ekosistem Avalanche, yang nilai tokenisasinya telah menembus $1,3 miliar pada akhir 2025 lalu.



