


​Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, menyampaikan komitmen tegas mengenai independensi bank sentral dalam pidato publik pertamanya di kancah internasional. Berbicara di forum tahunan European Central Bank di Sintra, Portugal, pada Rabu (1/7), Warsh menegaskan bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap didasarkan pada data ekonomi, bukan pada tekanan politik eksternal. Penegasan ini menjadi respons krusial di tengah upaya The Fed memerangi inflasi yang masih bertahan di atas target.
​"Kami telah lama menjadi bank sentral yang independen. Kami akan tetap menjadi bank sentral yang independen saat ini, dan Anda tidak akan melihat perubahan apa pun terkait hal tersebut," ujar Warsh. Pernyataan ini secara implisit menjawab berbagai spekulasi mengenai pengaruh tekanan politik terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Warsh menekankan bahwa stabilitas harga adalah mandat utama yang tidak bisa dinegosiasikan, meskipun terdapat ekspektasi pasar mengenai potensi pemangkasan suku bunga di tengah tantangan ekonomi global.
​Selain membahas independensi, Warsh secara resmi mengumumkan pergeseran strategi komunikasi The Fed dengan meninggalkan praktik forward guidance. Ia berpendapat bahwa bank sentral tidak seharusnya merasa terikat oleh prediksi kebijakan masa depan di tengah ketidakpastian ekonomi yang tinggi. Pendekatan berbasis data (data-dependent) ini dipandang pasar sebagai langkah bijak untuk menjaga fleksibilitas moneter. Target inflasi sebesar 2% tetap menjadi komitmen mutlak, di mana Warsh memperingatkan bahwa setiap ekspektasi mengenai pelonggaran sikap terhadap inflasi adalah suatu kekeliruan.
​Dalam diskusi tersebut, Warsh juga menyoroti peran Artificial Intelligence (AI) sebagai katalisator produktivitas Amerika Serikat di masa depan. Meskipun mengakui adanya risiko jangka pendek, ia optimis bahwa revolusi AI akan membawa ekonomi AS menuju fase pertumbuhan baru. Dengan sikap tegas dan pendekatan yang lebih terukur, Warsh kini menjadi fokus utama bagi investor global yang menanti arah kebijakan moneter AS selanjutnya di tengah ketidakpastian geopolitik dan inflasi yang menantang.