


​QatarEnergy, perusahaan energi milik negara Qatar, resmi menangguhkan operasional di fasilitas produksi LNG terbesar dunia menyusul serangan drone Iran. Berdasarkan laporan dari Bloomberg penangguhan ini dilakukan setelah fasilitas di kompleks industri Ras Laffan dan Mesaieed mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Dampaknya, harga patokan gas Eropa melonjak lebih dari 50%, mencatatkan kenaikan harian tertinggi dalam empat tahun terakhir di tengah meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.
​Gangguan pasokan ini kini meluas ke negara tetangga setelah Arab Saudi menutup fasilitas kilang Ras Tanura akibat kebakaran yang dipicu oleh upaya intersepsi drone. Selain itu, Irak melaporkan penghentian produksi di sebagian besar ladang minyak wilayah Kurdistan, sementara Israel menangguhkan operasional di ladang gas utama Leviathan dan Tamar. Situasi ini menempatkan tekanan besar pada rantai pasok energi global, mengingat sekitar 20% ekspor LNG dunia bergantung pada produksi dari wilayah Teluk tersebut.
​Sentimen negatif ini memicu kepanikan di market global karena potensi lonjakan inflasi yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral. Para pelaku pasar mengantisipasi koreksi lanjutan pada aset berisiko jika stabilitas di Selat Hormuz tidak segera pulih. Fokus saat ini tertuju pada upaya restrukturisasi rantai pasok energi global guna memitigasi dampak berkepanjangan dari terhentinya produksi gas di Qatar.