Risiko konflik militer di Timur Tengah kian memuncak seiring mencuatnya isu rencana serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas infrastruktur strategis Iran. Berdasarkan laporan Axios pada Kamis (29/10) yang mengutip sumber-sumber Israel dan regional, Angkatan Pertahanan Israel (IDF) serta AS berkoordinasi secara intensif mempersiapkan potensi operasi militer selama sepekan pasca-pemilu sela AS guna menekan Iran agar memberikan konsesi pada program nuklirnya.
​Potensi serangan udara tersebut dilaporkan bakal membidik pusat kepemimpinan, fasilitas energi, hingga situs-situs nuklir utama di Iran jika jalur diplomasi menemui jalan buntu. Eskalasi geopolitik yang melibatkan kekuatan militer utama di kawasan tersebut dinilai berisiko memicu gejolak pasokan energi global, yang turut menjadi perhatian serius otoritas moneter internasional dalam menjaga stabilitas inflasi.
​Menanggapi ancaman dan koordinasi serangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan melalui pernyataan resminya bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siap tempur penuh untuk membela tanah air. Meski demikian, Teheran menyatakan tetap memberi ruang bagi upaya diplomasi dan terus berkoordinasi dengan pihak perantara guna mempercepat eksekusi rencana perdamaian 7 hari (7-Day Plan) dalam waktu kurang dari sepekan.



