Bidang kriptografi kini mencatatkan tonggak sejarah baru setelah salah satu masalah perhitungan matematik tertua berhasil diselesaikan pada Kamis (3/9/2026). Angka sepanjang 260 digit desimal yang dirilis oleh RSA Laboratories sejak 1991 tersebut sukses difaktorkan menjadi dua bilangan prima penyusunnya. Pencapaian ini menjadi rekor pemfaktoran pertama yang melampaui RSA-250 setelah terakhir kali diselesaikan pada 2020 silam, sekaligus membuktikan lompatan teknik komputasi baru tanpa harus mengandalkan komputer kuantum.
​Keberhasilan pemfaktoran tersebut memicu perhatian serius dari Eli Ben-Sasson, yang juga merupakan tokoh kriptografi sekaligus Co-Founder StarkWare dan salah satu perancang awal protokol Zcash, melalui pernyataannya di platform X pada Kamis (3/9/2026). Ben-Sasson menyoroti bahwa berhasil dipecahkannya angka 260 digit ini menunjukkan adanya teknik alternatif yang kian agresif dalam membongkar algoritma berbasis angka besar. Ia juga mengaitkan perkembangan ini dengan kekhawatirannya terhadap laju kemajuan kecerdasan buatan atau AI yang berpotensi meruntuhkan keamanan skema enkripsi yang melindungi private key jauh lebih cepat dari perkiraan industri.
​Melihat celah kerentanan tersebut, Ben-Sasson menilai industri kripto dan teknologi global perlu segera mempercepat transisi standar keamanan menuju ZK-STARKs. Berbeda dari skema enkripsi lama yang bertumpu pada kesulitan pemfaktoran matematika dan kurva eliptis, ZK-STARKs memanfaatkan fungsi hash simetris murni yang kebal terhadap ancaman pembobolan komputasi masa depan. Keberhasilan penyelesaian perhitungan RSA-260 ini dinilai menjadi peringatan nyata bagi ekosistem aset digital untuk mulai memigrasikan fondasi keamanannya ke sistem yang lebih tahan banting.



