Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Data pasar menunjukkan USD/IDR sempat mencapai Rp17.920, dengan rupiah melemah sekitar 0,6% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Bank Indonesia menyebut tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari global, dolar AS menguat seiring ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, kekhawatiran terhadap inflasi global, serta kenaikan yield US Treasury.
Tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak di tengah ketidakpastian geopolitik. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dapat menghadapi kebutuhan dolar lebih besar ketika harga energi meningkat. Di dalam negeri, permintaan valuta asing dari importir menjelang akhir kuartal III turut menambah tekanan terhadap rupiah.
BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar. Sebagai perbandingan, kurs transaksi BI pada 24 September mencatat kurs jual dolar AS Rp17.892,01 dan kurs beli Rp17.713,99, sementara harga di pasar spot dapat bergerak berbeda sepanjang perdagangan.


.png)
