

.png)
.png)

Otoritas Rusia resmi mendakwa pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, dengan tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme. Bersamaan dengan itu, aparat juga menerbitkan surat perintah penangkapan internasional terhadap miliarder teknologi tersebut.
Menurut laporan media Rusia yang mengutip Dinas Keamanan Federal (FSB), dakwaan tersebut menjadi eskalasi terbaru dalam perselisihan panjang antara pemerintah Rusia dan Telegram terkait moderasi konten serta penggunaan platform untuk aktivitas ilegal. Hingga kini, otoritas belum membeberkan secara rinci bukti maupun dasar spesifik dari tuduhan tersebut.
Kasus ini menyusul penyelidikan yang telah dibuka Rusia terhadap Durov pada awal tahun 2026. Pemerintah Rusia sebelumnya menuduh Telegram tidak cukup kooperatif dalam menghapus konten yang dianggap melanggar hukum dan membahayakan keamanan nasional.
Pavel Durov selama ini dikenal sebagai pendukung privasi digital dan kebebasan berekspresi. Telegram juga berulang kali membantah tuduhan bahwa platformnya secara sengaja memfasilitasi aktivitas kriminal, seraya menyatakan terus meningkatkan kebijakan moderasi dan bekerja sama dengan otoritas sesuai hukum yang berlaku.
Penerbitan surat perintah penangkapan internasional berpotensi memperumit mobilitas Durov di luar negeri dan kembali menempatkan Telegram di bawah sorotan regulator global, terutama terkait tanggung jawab platform digital dalam menangani penyalahgunaan layanan oleh pelaku kejahatan.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.