asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BANKUSDT0.26788+0.03861 ( +16.84% )
BTCUSDT65,170.0-591.86 ( -0.9% )
DEXEUSDT2.014-2.223 ( -52.47% )
ETHUSDT1,877.2-48.59 ( -2.52% )
HYPEUSDT58.149-0.5 ( -0.86% )
RIFUSDT0.1158+0.0365 ( +46.03% )
SOLUSDT75.91-1.76 ( -2.27% )
XRPUSDT1.1097-0.0276 ( -2.43% )
ZAMAUSDT0.05051+0.00098 ( +1.98% )
Powered by
News

Sebut Perang AS-Iran Menguntungkan, Menkeu Israel Enggan Turunkan Pasukan

User
July 22, 2026 | 05:25 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
July 22, 2026 | 05:25 WIB
Sebut Perang AS-Iran Menguntungkan, Menkeu Israel Enggan Turunkan Pasukan

​Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kepentingan untuk bergabung dalam eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dalam pernyataannya pada Selasa (21/7/2026), Smotrich menyebut situasi saat ini sebagai skenario terbaik bagi Israel, selama militernya tidak perlu terlibat langsung dalam pertempuran. Ia menilai target utama untuk memperlemah hingga menggulingkan rezim Iran kini sedang berjalan melalui tekanan militer AS dan keterpurukan ekonomi Iran.

​Sementara Israel memilih bertahan di luar garis depan, publik dan militer AS harus menanggung dampak berat dari konflik ini. Laporan mencatat 17 prajurit AS tewas dan lebih dari 420 lainnya luka-luka, dengan total biaya operasi militer menembus $100 miliar. Tak hanya itu, warga Amerika juga dibebani tambahan biaya bahan bakar hingga lebih dari $71 miliar akibat lonjakan harga energi global sejak konflik memanas.

​Di sisi operasional, pasukan AS terus memperketat tekanan terhadap jalur logistik Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengkonfirmasi per 21 Juli 2026 bahwa pasukannya aktif menerapkan penegakan blokade maritim penuh di kawasan Timur Tengah. Dalam operasi tersebut, militer AS tercatat telah mengalihkan rute 8 kapal komersial dan melumpuhkan 1 kapal lainnya demi menutup akses maritim Iran.

​Di sisi lain, potensi meluasnya konflik di Timur Tengah kini berada di titik kritis. Merespons ancaman Donald Trump yang menargetkan fasilitas nuklir dan lokasi sensitif Iran, Komando Militer Pusat Iran (Khatam al-Anbiya) mengeluarkan peringatan keras. "Jika militer negara yang agresif dan teroris itu memasuki fase tersebut, kami akan menganggapnya sebagai perluasan perang di seluruh kawasan. Seluruh kepentingan AS, sekutunya, dan para pendukung negara nakal tersebut akan menjadi target serangan dahsyat dari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran," tegas komando tersebut.

Copiedbagikan