​Subkomite Permanen untuk Investigasi Senat AS merilis laporan resmi yang menuding stablecoin Tether (USDT) menjadi instrumen utama dalam memfasilitasi jaringan keuangan bayangan (shadow banking) pemerintah Iran. Berdasarkan laporan hasil investigasi yang diterbitkan pada Senin (28/9/2026), analisis terhadap 846 wallet kripto yang disanksi oleh AS dan Israel menunjukkan bahwa 84% di antaranya terdeteksi aktif menggunakan USDT untuk memindahkan dana lintas batas dan menyokong ekonomi Iran.
​Laporan yang dipimpin Senator Richard Blumenthal tersebut menuding Bank Sentral Iran dan kelompok proxy seperti Hizbullah memanfaatkan stablecoin terbesar di dunia ini untuk menembus blokade keuangan internasional. Atas temuan tersebut, Blumenthal mendesak Departemen Keuangan dan Departemen Kehakiman AS untuk memperketat pengawasan serta mendalami indikasi keterlibatan Tether dalam pelanggaran sanksi.
​Menanggapi tuduhan ini, CEO Tether Paolo Ardoino menegaskan bahwa pihaknya sangat kooperatif dengan penegak hukum internasional seperti OFAC dan DOJ. Tether mengklaim telah membantu membekukan hampir $550 juta USDT yang terhubung dengan jaringan Iran sepanjang tahun 2026, termasuk pembekuan $344 juta pada April dan $130 juta di jaringan TRON pada Juli lalu.
​Penyelidikan ini semakin mempertegas langkah Departemen Keuangan AS yang sedang menggalakkan Operation Economic Outcast untuk memutus aliran dana digital bagi jaringan militer dan ekonomi Iran.



