


Tether, penerbit stablecoin USDT, kini tercatat sebagai salah satu pemegang emas fisik swasta terbesar di dunia dengan total kepemilikan mencapai 154 ton. Cadangan ini terdiri dari 132 ton emas yang mendukung cadangan USDT dan 22 ton lainnya yang menjadi jaminan bagi produk token Tether Gold (XAUT). Dengan estimasi nilai hampir $20 miliar, akumulasi emas tersebut menempatkan Tether di korporasi swasta elit yang kepemilikan emasnya setara dengan cadangan devisa negara.
Secara global, posisi 154 ton emas yang dimiliki Tether menempatkannya di atas cadangan resmi emas sejumlah negara. Sebagai perbandingan, jumlah ini melampaui kepemilikan emas negara seperti Indonesia yang memegang sekitar 85,5 ton, serta negara lain seperti Bulgaria, Finlandia, atau Peru. Keberadaan cadangan ini memberikan dampak signifikan pada pasar logam mulia karena Tether kini bertindak sebagai salah satu pembeli non-negara yang paling berpengaruh di dunia.
Strategi akumulasi emas ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi aset Tether untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. Tether memposisikan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko devaluasi mata uang, ketidakpastian geopolitik, dan inflasi jangka panjang. Dengan $117 miliar dalam bentuk obligasi pemerintah AS, penambahan emas dan Bitcoin senilai $7 miliar memperkuat posisi Tether dalam mengelola ketahanan cadangan modalnya.
Meskipun laju pembelian emas Tether sempat melambat pada kuartal pertama 2026, yakni hanya menambah sekitar 6 ton dibandingkan 27 ton pada kuartal sebelumnya, perusahaan ini tetap menjadi kekuatan dominan di pasar bullion. Integrasi cadangan emas ini ke dalam layanan pinjaman melalui kemitraan dengan platform Ledn juga menunjukkan ambisi Tether untuk menjadikan emas sebagai infrastruktur kredit, sekaligus mempertegas perannya sebagai entitas yang melampaui batas model bisnis penerbit stablecoin tradisional.