

.png)
.png)

Tether kembali melakukan pembakaran (burn) stablecoin USDT dalam jumlah besar. Berdasarkan data CryptoQuant, penerbit stablecoin terbesar di dunia itu membakar sekitar US$2,5 miliar atau setara Rp40 triliun USDT di jaringan Ethereum pada 7 Juli 2026. Nilai tersebut menjadi aksi burn terbesar yang dilakukan Tether sejak Februari 2026.
Pembakaran tersebut terjadi di tengah menurunnya cadangan USDT di Binance pada jaringan Tron. Saldo USDT Binance di blockchain tersebut dilaporkan turun menjadi sekitar US$806 juta, level terendah sejak 29 Desember 2025 dan untuk pertama kalinya berada di bawah US$1 miliar dalam lebih dari enam bulan.
Meski terlihat seperti pengurangan pasokan, sejumlah analis menilai aksi burn tersebut bukan berarti Tether mengurangi total suplai USDT secara permanen. Langkah tersebut umumnya merupakan bagian dari manajemen treasury, di mana USDT dibakar pada satu blockchain untuk kemudian diterbitkan kembali (mint) di jaringan lain yang memiliki permintaan lebih tinggi atau biaya transaksi yang lebih efisien.
Selama ini Tether secara rutin melakukan proses rebalancing antar blockchain, termasuk antara Ethereum, Tron, dan jaringan lainnya. Strategi tersebut bertujuan memastikan distribusi likuiditas USDT tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna dan aktivitas perdagangan di masing-masing ekosistem.
Pelaku pasar menilai aksi burn berskala besar seperti ini cenderung bersifat netral hingga positif bagi pasar kripto. Jika pembakaran di Ethereum diikuti dengan pencetakan USDT baru di blockchain lain, langkah tersebut dapat meningkatkan likuiditas di bursa maupun protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).