​Eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah berada dalam fase penentuan sikap terhadap Iran. Dalam wawancara telepon bersama Fox News pada Minggu (20/9), Trump memperingatkan bahwa langkah-langkah besar akan segera diputuskan dalam waktu dekat, dengan mempertimbangkan tiga skenario utama: menghancurkan Iran sepenuhnya, membiarkan perekonomian negara tersebut runtuh akibat sanksi, atau menempuh negosiasi kesepakatan baru.
​Merespons ancaman tersebut, otoritas militer di Teheran langsung menaikkan status kesiapsiagaan seluruh matra angkatan bersenjatanya ke tingkat tertinggi, yakni Code 100. Mengutip laporan kantor berita Fars, komando pertahanan Iran telah memobilisasi sebagian besar kekuatan dari total 420.000 personel pasukan darat ke garis perbatasan. Konsentrasi pertahanan terpadu difokuskan di sepanjang pesisir Makran yang berbatasan langsung dengan Teluk Oman, mencakup pengerahan unit pasukan khusus, tim reaksi cepat, artileri, hingga infanteri mekanis.
​Penempatan konsentrasi pasukan secara masif di wilayah pesisir selatan ini dilakukan menyusul kekhawatiran Iran terhadap potensi invasi militer AS. Kendati Trump melontarkan retorika serangan keras di hadapan publik, ia juga tidak menutup kemungkinan opsi diplomasi dengan menyatakan keterbukaannya untuk bertemu langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan ini.



