Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada kelompok Ansarallah di Yaman melalui unggahan di platform Truth Social miliknya. Dalam unggahan pada selasa (13/10), Trump menuduh Ansarallah sengaja menyerang Arab Saudi untuk memicu lonjakan harga minyak dunia menjelang pemilu AS, sekaligus mengindikasikan adanya keterlibatan Iran di balik aksi tersebut. Mengingat kembali riwayat konflik sebelumnya, Trump menyampaikan gertakan langsung: "Saya akan berada di sana setelah Pemilu, dan saya tidak akan pernah melupakannya!"
Peringatan keras dari AS ini muncul tepat di tengah eskalasi militer yang memuncak di lapangan. Militer Arab Saudi dilaporkan baru saja meluncurkan serangan udara yang menghantam depo minyak Al-Sabaha di Sanaa, Yaman. Tak tinggal diam, Ansarallah merespons dengan mengeluarkan peringatan darurat agar seluruh pekerja dan warga sipil segera mengevakuasi diri dari area sekitar fasilitas minyak Saudi Aramco, sembari menetapkan seluruh situs Aramco sebagai target serangan yang sah. Sebagai bentuk balasan, Ansarallah juga mendeklarasikan bakal menyerang markas besar Saudi Aramco di Dammam, kilang minyak Aramco di Riyadh, hingga Bandara Internasional King Khalid.
Situasi saling serang yang melibatkan infrastruktur energi vital ini memicu kekhawatiran besar di pasar global, hingga mendorong harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak ke level $94 per barel dan Brent menembus $108 per barel. Ancaman terhadap fasilitas Aramco berpotensi memperparah krisis pasokan energi dunia dan memicu gelombang volatilitas baru di pasar keuangan internasional maupun pasar kripto.



