


Melalui unggahan di platform Truth Social pada 3 Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Iran yang ia sebut bermuka dua (duplicitous). Pernyataan ini menyusul klaim Trump bahwa negosiasi baru akan dimulai pada Senin sore usai keputusan menunda serangan besar, di mana ia mengklaim Angkatan Laut Amerika Serikat telah mengontrol penuh Selat Hormuz melalui blokade ketat.
​Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah klaim Trump terkait agenda negosiasi pada Senin sore tersebut. Pihak Iran menegaskan tidak ada pembicaraan langsung maupun jadwal pertemuan yang tengah berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Kendati demikian, Iran mengonfirmasi bahwa diskusi masih berlanjut melalui saluran diplomatik Kesultanan Oman untuk membahas pembentukan koridor maritim sementara yang aman di Selat Hormuz.
​Iran memberikan syarat ketat terkait batasan pembukaan jalur tersebut. Pihak Iran menegaskan tidak akan ada perubahan permanen di Selat Hormuz selama Amerika Serikat terus melakukan tindakan yang mereka sebut sebagai agresi dan blokade maritim. Artinya, saluran diplomasi Oman saat ini hanya berfokus pada teknis navigasi maritim dan belum menyentuh negosiasi perdamaian yang lebih luas.
​Kondisi ini menunjukkan bahwa Iran tetap memanfaatkan jalur vital Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik dan militer. Sementara itu, Amerika Serikat mempertahankan posisi kerasnya dengan menegaskan bahwa tidak ada jalur yang terbuka bagi Iran tanpa kesepakatan atau penghentian ambisi nuklir.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.