​Tekanan di pasar obligasi Amerika Serikat kian memuncak setelah yield surat utang jangka panjang melonjak tajam pada Kamis (10/9). Imbal hasil US 30-Year Bond melesat ke 5,35%, menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun terakhir sejak Juni 2007. Sementara itu, yield tenor 10 tahun (US 10Y Note) menembus 4,90% untuk pertama kalinya sejak November 2023, melonjak hingga 95 basis poin sejak pecahnya eskalasi perang di Timur Tengah.
​Kepanikan pasar terpicu oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang naik lebih cepat dari perkiraan sehingga mengobarkan kembali ancaman inflasi. Lonjakan ini bahkan tak terbendung meski Departemen Keuangan AS melipatgandakan program buyback obligasi tiga kali lipat menjadi $6 miliar demi menahan kejatuhan harga surat utang. Alih-alih mereda, langkah intervensi tersebut justru dibalas aksi jual lanjutan hingga mengerek yield 10 tahun naik tambahan 10 basis poin.
​Meroketnya imbal hasil obligasi kini langsung melumpuhkan sektor perumahan AS akibat lonjakan tajam bunga KPR. Gelombang pembatalan pembelian rumah melonjak ke level tertinggi sejak 2023, sementara beban biaya pinjaman kian mencekik neraca keuangan pemerintah dan masyarakat jelang memasuki kuartal IV yang penuh tekanan.



