​Delegasi militer Pakistan dan jajaran pimpinan pemerintah Iran menggelar perundingan tingkat tinggi guna merumuskan jalan damai dan membuka kembali akses pelayaran vital Selat Hormuz. Melansir laporan dari Reuters, pertemuan strategis yang dihadiri Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi tersebut dilaporkan mencapai kemajuan signifikan pada Selasa (25/8).
​Dalam meja perundingan, pihak Iran menetapkan sejumlah syarat mutlak untuk memulihkan Selat Hormuz, salah satunya mendesak Amerika Serikat agar kembali mengaktifkan dan mematuhi kesepakatan MoU Islamabad (Islamabad agreement). Selain itu, Iran menuntut implementasi Klausul 5 yang mengatur kesepahaman bilateral antara Iran dan Oman dalam tata kelola keamanan perairan Selat Hormuz. Pihak Pakistan yang sebelumnya telah berkomunikasi dengan Donald Trump diperkirakan akan meneruskan poin-poin persyaratan ini langsung ke AS.
​Sinyal positif dari proses diplomasi tersebut langsung direspons cepat oleh pasar komoditas energi global. Meredanya kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan jangka panjang memicu koreksi harga minyak mentah dunia, dengan patokan Brent turun menyentuh $87 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) melandai ke kisaran $82 per barel.



