


​Militer Amerika Serikat kembali meluncurkan gelombang serangan terhadap sejumlah target militer Iran pada Kamis (23/7) pukul 04.30 WIB dini hari. Operasi yang memasuki hari ke-12 ini bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam perairan regional, sekaligus membantah klaim Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengaku telah mengendalikan jalur keluar-masuk Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap aman dan terbuka bagi transit kapal komersial internasional di bawah pengawalan militer AS.
​Sementara itu di sisi Laut Merah, situasi kian memanas setelah kelompok Houthi Yaman mengumumkan serangan masif terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, ENCELIA dan LAYLA, menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Juru bicara Houthi, Yahya Sareea, mengonfirmasi insiden tersebut memicu kebakaran hebat pada kedua kapal dan secara sepihak mendeklarasikan penutupan total Selat Bab El-Mandeb bagi seluruh kapal tanker berbendera Arab Saudi.
​Dampak serangan tersebut memaksa hampir 10 kapal komersial lainnya memutar balik dan membatalkan rute mereka. Mengusung prinsip blokade dibalas blokade, pihak Houthi menegaskan akan terus melanjutkan operasi maritimnya dan memperingatkan bahwa setiap balasan terhadap Yaman akan direspon dengan serangan skala besar ke jantung wilayah Arab Saudi, termasuk menyasar fasilitas kilang minyak vital.