Permintaan terhadap materi pembelajaran aset digital di kalangan akademisi melonjak signifikan. Laporan terbaru New Money Curriculum yang dirilis oleh bursa kripto OKX pada Rabu, (26/8) mengungkapkan bahwa 90% mahasiswa di Amerika Serikat menginginkan materi kripto dan blockchain dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan keuangan formal. Dukungan serupa juga datang dari kalangan orang tua dengan persentase mencapai 87%, bahkan sekitar 27% mahasiswa dan 32% orang tua menilai mata kuliah tersebut wajib dijadikan syarat kelulusan.
​Tingginya antusiasme tersebut berbanding terbalik dengan ketersediaan program resmi di perguruan tinggi. Merujuk studi akademik terpisah yang terbit di Information Systems Education Journal, dari 533 sekolah bisnis terakreditasi AACSB di AS, hanya sekitar 28% atau 151 institusi yang menyediakan setidaknya satu mata kuliah terkait blockchain. Minimnya kelas formal ini mendorong 33% mahasiswa menjadikan media sosial dan influencer sebagai rujukan utama belajar kripto, jauh melampaui peran kampus yang hanya dipilih oleh 7% responden.
​Kebutuhan literasi tersebut tecermin dari pola transfer pengetahuan di lingkungan keluarga, di mana 47% mahasiswa mengaku pernah mengajarkan dasar investasi kripto kepada orang tua mereka. Selain memandang aset digital sebagai instrumen jangka panjang, keterbukaan generasi muda terhadap teknologi ini juga terlihat dari kesiapan 56% mahasiswa dan 62% orang tua untuk menerima 20% dari upah kerja mereka dalam bentuk Bitcoin.
​Fenomena ini membuktikan bahwa edukasi terstruktur memegang peranan krusial dalam pertumbuhan industri aset digital. Kolaborasi antara institusi pendidikan, pelaku industri, serta peran media informasi kredibel menjadi kunci untuk menutup celah literasi keuangan, menyaring disinformasi dari media sosial, dan mendorong adopsi aset digital yang aman serta semakin masif di masa depan.



